Mulur Mungkret: Ilmu Bahagia Suryomentaram sebagai Etika Ekologi Nusantara

Penulis

DOI:

https://doi.org/10.55448/e2zjkc51

Kata Kunci:

etika ekologi, kearifan lokal Nusantara, kosmologi, pasca-modern, psikologi

Abstrak

Etika Ekologi Modern berhadapan dengan kenyataan bahwa alam mengalami kerusakan. Penyebabnya tidak lain dari mentalitas pasca-modernis, yang memandang bahwa lingkungan hidup hanyalah sarana pemenuh kebutuhan manusia. Beberapa problem kultural: 1) etika ekologi yang muncul dari sistem ekonomi Barat kurang sesuai dengan mentalitas bangsa-bangsa Timur; 2) terjadi gerakan untuk mengangkat pemikiran filosofis lokal sebagai dasar etika ekologi yang tepat untuk lokal tertentu. Ajaran Suryomentaram berhasil mengupas struktur jiwa manusia Nusantara, dengan temuan bahwa suatu keinginan yang dipenuhi dapat mulur dan mungkret menyebabkan suatu dinamika perasaan senang-susah dalam diri setiap manusia (raos sami). Raos sami digunakan sebagai tolok ukur untuk mencapai kondisi surga tenteram, di mana segala hal yang dilakukan lepas dari nafsu untuk mulur yang menimbulkan kesusahan. Konsep mulur mungkret dapat diterapkan menjadi dasar Etika Ekologi Nusantara, yang sesuai dengan sifat perangai masyarakatnya, serta selaras dengan konsep kosmologis Nusantara yang mengedepankan simbiosis mutualisme antara manusia dengan alam.

Referensi

Armawi, Armaidi. 2013. “Kajian Filosofis terhadap Pemikiran Human-Ekologi dalam Pemanfaatan Sumberdaya Alam.” Jurnal Manusia dan Lingkungan 20 (1): 57--67.

Bahasa, Badan Pengembangan dan Pembinaan. 2016. “Lingkungan Hidup.” Kamus Besar Bahasa Indonesia. Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa. https://kbbi.kemdikbud.go.id/entri/lingkungan hidup.

“Etika.” 2016. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa. https://kbbi.kemdikbud.go.id/entri/etika.

Hargrove, Eugene C. 1989. Foundations of Environmental Ethics. Denton: Environmental Ethics Books. DOI: https://doi.org/10.5840/enviroethics198911311

Hasir, dan Ilham Rofiqi. 2018. “Pentingnya Etika Lingkungan dalam Melestarikan Sumber Daya Alam.” Pamekasan: IAIN Madura.

Istiqomah, Aisiyah Wahyu, dan Annisa Nur Intan. 2022. “Kawruh Begja Suryomentaram : Filosofi Hidup Bahagia di Era Milenial.” Jawi 5 (1): 1--24. https://doi.org/http://dx.doi.org/10.24042/jw.v5i1.11705.

Istiqomah, Fakurosi Uti. 2015. “Hubungan antara Eksistensi Manusia dan Etika menurut Ki Ageng Suryomentaram.” Semarang: Universitas Islam Negeri Walisongo.

Kusbiantoro, Paulus Teguh. 2022. Psikologi Pengenalan Diri. Malang: Karmelindo.

Mahdayeni, Mahdayeni, Muhammad Roihan Alhaddad, dan Ahmad Syukri Saleh. 2019. “Manusia dan Kebudayaan (Manusia dan Sejarah Kebudayaan, Manusia dalam Keanekaragaman Budaya dan Peradaban, Manusia dan Sumber Penghidupan).” Tadbir: Jurnal Manajemen Pendidikan Islam 7 (2): 154–65. https://doi.org/10.30603/tjmpi.v7i2.1125. DOI: https://doi.org/10.30603/tjmpi.v7i2.1125

Muthmainnah, Lailiy. 2020. “Kapitalisme , Krisis Ekologi , dan Keadilan Intergenerasi : Analisis Kritis atas Problem Pengelolaan Lingkungan Hidup di Indonesia ( Capitalism , Ecological Crises , and Inter-Generational Justice : Critical Analysis on the Environmental Management Problems in Indonesia )” 20 (1): 57–69. https://doi.org/10.20473/mozaik.v20i1.15754. DOI: https://doi.org/10.20473/mozaik.v20i1.15754

Paus Fransiskus. 2015. Laudato Si’. Diedit oleh FX Adisusanto. Jakarta: Departemen Dokumentasi dan Penerangan KWI.

Raymundus, I Made Sudhiarsa. 2020. “Antropologi Budaya 1: Manusia, Budaya, dan Religiositasnya.” Malang: STFT Widya Sasana.

Riyanto, FX. Eko Armada. 2015. “Memayu Hayuning Buwono: Konsep Keadilan Eco-Etika Kebijaksanaan Jawa.” In Kearifan Lokal Pancasila: Butir-butir Filsafat Keindonesiaan, diedit oleh FX. Eko Armada Riyanto, Johanis Ohoitimur, C.B. Mulyatmo, dan Otto Gusti Madung, 467–92. Yogyakarta: Kanisius.

Siswantara, Yusuf, Dian Tika Sujata, dan Ludovica Dewi Indah Setiawati. 2022. “INKLUSIF: PERTOBATAN EKOLOGIS MELALUI PENDIDIKAN KARAKTER RELIGIUS.” KASTRAL: Kajian Sastra Nusantara Linggau 2 (2): 34–47. https://doi.org/10.55526/kastral.v2i2.297. DOI: https://doi.org/10.55526/kastral.v2i2.297

Suhardin, Suhardin. 2017. “Kepedulian Lingkungan Siswa Ditinjau Dari Aspek Pengetahuan Tentang Konsep Dasar Ekologi Dan Gender.” Jurnal Ilmiah Pendidikan Lingkungan dan Pembangunan 18 (02): 64–77. https://doi.org/10.21009/plpb.182.05. DOI: https://doi.org/10.21009/PLPB.182.05

Sumbodo, Heru, dan Koentjoro Koentjoro. 2019. “Ngudari Reribet: Mulur-Mungkret dan Tatag Janda Muda Ditinggal Mati dalam Perspektif Ki Ageng Suryomentaram.” Gadjah Mada Journal of Psychology (GamaJoP) 4 (2): 158. https://doi.org/10.22146/gamajop.46362. DOI: https://doi.org/10.22146/gamajop.46362

Surahman. 2021. “Basis Teologis bagi Ekologi di Indonesia.” NUSANTARA: Journal for Southeast Asian Islamic Studies 17 (1): 50—61. DOI: https://doi.org/10.24014/nusantara.v17i1.13907

Suryomentaram, Ki Ageng. 1985. Ajaran-ajaran Ki Ageng Suryomentaram. Jakarta: Inti Idayu Press.

Widyarini, Nilam. 2018. “Kawruh Jiwa Suryomentaram: Konsep Emik atau Etik?” Buletin Psikologi 16 (1): 46--57.

Yusriansyah, E. 2023. “Metafisika Nusantara: Pendekatan untuk Merawat Bumi dan Meruwat Bumi.” In Memuliakan Bumi, diedit oleh Kiftiawati, 29—39. Yogyakarta: Cantrik Pustaka.

Diterbitkan

14-06-2026

Terbitan

Bagian

Artikel

Cara Mengutip

Chrisdinando OCarm, Gerardus, Armada Riyanto, dan Mathias Jebaru Adon. 2026. “Mulur Mungkret: Ilmu Bahagia Suryomentaram Sebagai Etika Ekologi Nusantara”. Jurnal Ekologi, Masyarakat Dan Sains 7 (1): 3-14. https://doi.org/10.55448/e2zjkc51.

Artikel Serupa

11-20 dari 37

Anda juga bisa Mulai pencarian similarity tingkat lanjut untuk artikel ini.